
----Internet----
----Warnet----
-----Awal dari sebuah Ide-----
(TULISAN INI TIDAK TERLALU PENTING...boleh anda baca boleh tidak...boleh anda tinggal makan, ngopi atau boleh anda tinggal pergi berhari-hari lalu anda baca kembali.Jangan harap anda akan membaca tulisan yang istimewa dan berbobot disini. Jangan harap anda akan menemui kata-kata tingkat tinggi khas sastrawan. Jangan harap ini adalah cerpen. Jangan aharap ini adalah prosa ataupun karya sastra lain. Ini hanya sebuah tulisan yang tak terdefinisi, dan tak mau didefiniskan, aku lebih senang menyebutnya “tulisan”. Siapkan otak anda yang akan bosan dengan banyaknya kata “positif” dalam tulisan ini.dari banyaknya kata “positif” dalam tulisan ini, salah satunya akan masuk di pikiran anda...membuatnya lebih POSITIF.)
Ruangan yang semula sunyi senyap bak kuburan lama tanpa peziarah, mendadak menjadi sebuah pasar diskon yang diserbu pengunjung.
Ruangan tenang yang sebelumnya hanya dihiasi oleh alunan musik slow pembuat kantuk tiba-tiba terhentak suara gaduh siswa-siswi berseragam putih-biru yang berebut tempat untuk menjelajahi dunia maya.Suara-suara yang membuat ruangan penuh bilik itu menjadi hidup.
Suara-suara mereka dengan mudah menembus sekat-sekat pemisah bilik warnet yang hanya terbuat dari tripleks bercat biru, sekaligus memudahkan kupingku ini untuk mendengar tiap kata yang terucap dari bocah belasan tahun itu.
Mau tak mau, ingin tak ingin, kupingku terpaksa menjadi pendengar setia ocehan mereka. Ocehan mereka tentang PS4, tentang lagu barunya WALI band, tentang Friendster dan apapun yang mereka liat di layar komputer flat 16 inchi tersebut.
Arah jam 12 dari tempatku. Dia diam, tapi tangannya sibuk pencet sana pencet sini. Ngeklik kiri ngeklik kanan. Game online. Ia nikmatin sendiri. Kadang hanya menjawab pertanyaan dari temannya: “Tekan level piro?” (Nyampe level berapa?)
Masih fokus pada layar yang ia tatap sembari menjawab: “Patang puluh enem!” (Empat puluh enam). Kemudian diam lagi. Tapi kini kakinya mulai digoyang-goyangkan. Entah ngilangin nervous atau “gemes” ma game yang ia mainkan. Aku tak pernah tahu. Aku hanya melihatnya.
Si “WWW” dan si “Dot Com” rupanya bukan barang baru lagi bagi mereka. Internet telah membumi, menjelajahi tiap desa, samapi pelosok. Warnet mudah ditemukan dimana-mana seperti pasir di gurun Sahara, semakin mudah diakses. Kadang terlalu mudah diakses dan terlalu bebas di akses. Semudah memindah Channel televisi dengan remote, mereka dengan leluasa membuka situs yang mereka inginkan. Hanya menambah www di depan dan dot com dibelakang, mereka sudah tahu situs tontonannya anak 17 tahun. Semudah itu. Kadang lewat google, mereka mendapat lebih dari itu. Positif maupun negatif. Tapi kebanyakan negatif. Jangan pernah salahkan internet, jangan pernah salahkan “www” juga “dot com”. Mereka netral. Pikiran oranglah yang akan membuatnya negatif atau positif. Tapi kebanyakan negatif.
Andai kita lebih peka terhadap semua,
Bagaimana memperkenalkan internet kepada mereka secara positif. Untuk membuatnya lebih berpikir positif dalam memandang dunia. Pasti “www” dan “dot com’ takkan pernah disalahkan.
Andai kita lebih peka terhadap semua,
Bagaimana membuat situs yang lebih positif, membuat situs yang bisa membuat dunia lebih cerdas. Pasti ‘www” dan “dot com” tak pernah dipermasalahkan.
Aku beranjak pergi. 3 lembar seribuanku ada digenggaman, menuju operator yang seakan-akan melihat uang berjalan masuk kas setiap ada user yang keluar.
Disana kulihat 2 orang gadis kecil. Berseragam putih-biru, masih lengkap dengan topi “SMP NEGERI 1 Pedan”. Yang satu berambut pendek, satunya lagi terlihat berkepang dua. Mau nge-print. Ku mulai mendekat. Sekilas nampak beberapa gambar. Bumi. Beruang kutub. Sapi. Hutan. Orang berdemo. Global warming.
Akhirnya kutemukan yang positif disini. Mereka ingin tahu lebih jauh apa yang sedang terjadi di Bumi dan apa yang harusnya mereka lakukan. Dua orang pria memberikan selebaran tentang global warming padanya kemarin. Mereka terdorong untuk lebih tahu tentang apa yang ada di selebaran itu.
Lihatlah jika si “dot com” digunakan dengan pikiran yang positif. Pasti jauh lebih berguna daripada membuka yang “enggak-enggak” ato maen game online sampe berjam-jam.
Jangan salahkan “Dot Com”. Dot Com itu netral. Dot com tak berasa. Kita yang akan menambah rasanya. Tergantung kita.Seharusnya semua lebih aktif meminimalisir dampak negatif “dot Com” pada anak-anak. Orang tua harusnya lebih bisa mengawasi kegiatan mereka dan lebih hati-hati dalam memperkenalkan mereka dengan dunia cyber yang tak punya cakrawala, para pendidik di sekolah juga perlu membimbing mereka bagaimana menyikapi teknologi dengan positif.
Aku keluar warnet berlantai dua itu dengan senyum. Mutiara kadang kita temukan dalam lumpur, diantara segitu banyak gelombang negatif yang menggangguku masih ada sebuah gelombang positif, yang mesti kecil, tapi sungguh, menyejukkan hati.
(Sebuah Fiksi yang biasa, tak istimewa . Terinpirasi ketika lagi ngenet...he...he..)
(Sebuah Cerita yang sederhana. Kutulis saat otak dan hati bersinkronisasi, kertas berkolaborasi dengan pena, dan berakhir saat jari-jariku menari diatas keyboard dan klik “publish post” di blog)
(Sebuah tulisan yang tak wajib anda baca. Sepenuhnya hak ditangan anda, mau baca, kasih comment, acuh..itu hak anda...tak ada yang anda pelajari dari semua ini...kecuali satu: bagaimana seorang amatiran mengungkapkan ekspresinya...tak ada yang akan menambah ilmu anda kecuali tiga: berpikir positif berbuat positif dan buat orang lain positif...hayaaaaahhhhh)
---Akhir Perjalanan Dari Sebuah Ide---


1 comment:
hai lam kenal..
sama-sama memfolow
& tukeran link yuk..
ditunggu
Post a Comment