
Dia mengayuh onthel-nya dengan semangatnya..
Melebihi semangat Bung Tomo saat berorasi...
Onthel-nya adalah sahabatnya
Onthel-nya adalah hidupnya
Sepeda onthel itu jembatan baginya untuk kehidupan
Dengan sepeda itu ia menyambung hidup
Membantu Bapak mencari nafkah
Kadang ke sawah,
Melebihi semangat Bung Tomo saat berorasi...
Onthel-nya adalah sahabatnya
Onthel-nya adalah hidupnya
Sepeda onthel itu jembatan baginya untuk kehidupan
Dengan sepeda itu ia menyambung hidup
Membantu Bapak mencari nafkah
Kadang ke sawah,
kadang ke rumah-rumah,
Kadang ke pasar,
Sepeda onthel itu jembatan baginya dalam pendidikan
Dengan sepeda itu ia mengejar cita-cita
Saat Matahari masih malu menampakan diri,
Ia dan sahabatnya, onthel, mulai mengarungi jalan menuju tempat menimba ilmu
Rutinitas yang terjadi selama tiga tahun,
Kini bangku SMA akan ia tinggalkan
Tak tahu apakah ia masih bisa mengejar,
Mengejar mimpinya,
Menempuh pendidikan di Perguruan Tinggi,
Kabar yang hinggap ke telinganya suatu sore, mengejutkannya..
Ia diterima di Universitas Negeri tanpa harus membayar sepersen-pun..
Ia melihat mimpinya semakin dekat..
Semakin nyata..
Gambaran tentang kegiatran kulaih menyibukkan pikirannya..
Tak sabar, ia segera mengayuh onthelnya. Pulang dan memberi tahu Bapak-Ibunya....
Esok harinya,
Rumahnya padat dikunjungi banyak orang,
Dari sahabatnya, sanak keluarga, tetangga hingga orang yang tak ia kenal
Dan tak lupa, onthelnya,
Semua jadi saksi akhir dari sebuah mimpi...
Akhir dari perjalanan seorang anak dan sahabatnya, onthel, dalam mengejar mimpi itu
Kemaren sore, seorang anak ditemukan tewas karena kecelakaan...
Onthelnya tertabrak Bus antar kota yang melaju kencang...
Benturan hebat membuat kepalanya mengalami pendarahan yang luar biasa..
Sepeda onthelnya terlempar dan kemudian terlindas mobil..
Hancur...
Onthelnya memang telah hancur, tapi tak akan pernah “mati”..
Mimpi telah berakhir.
Onthelnya kini dipajang di halaman depan rumah, dekat kebun kecil yang ditumbuhi bunga-bunga rawatan ibu..
Onthel itu jadi media pelepas rindu....
Dari seorang ibu pada anaknya
Onthel itu jadi media motivasi,
Untuk semua yang tahu kisah antara Anak itu, Onthel dan mimpinya...
----- Dalam lubuk hati yang paling dalam, orangtuanya telah merasa bangga, jauh lebih bangga dari apa yang dipikirkan sang anak-------
(Sebuah catatan fiksi yang terinspirasi saat melihat seorang pemuda yang mengangkut rumput dengan sepeda onthelnya di suatu sore...he...he..)
Kadang ke pasar,
Sepeda onthel itu jembatan baginya dalam pendidikan
Dengan sepeda itu ia mengejar cita-cita
Saat Matahari masih malu menampakan diri,
Ia dan sahabatnya, onthel, mulai mengarungi jalan menuju tempat menimba ilmu
Rutinitas yang terjadi selama tiga tahun,
Kini bangku SMA akan ia tinggalkan
Tak tahu apakah ia masih bisa mengejar,
Mengejar mimpinya,
Menempuh pendidikan di Perguruan Tinggi,
Kabar yang hinggap ke telinganya suatu sore, mengejutkannya..
Ia diterima di Universitas Negeri tanpa harus membayar sepersen-pun..
Ia melihat mimpinya semakin dekat..
Semakin nyata..
Gambaran tentang kegiatran kulaih menyibukkan pikirannya..
Tak sabar, ia segera mengayuh onthelnya. Pulang dan memberi tahu Bapak-Ibunya....
Esok harinya,
Rumahnya padat dikunjungi banyak orang,
Dari sahabatnya, sanak keluarga, tetangga hingga orang yang tak ia kenal
Dan tak lupa, onthelnya,
Semua jadi saksi akhir dari sebuah mimpi...
Akhir dari perjalanan seorang anak dan sahabatnya, onthel, dalam mengejar mimpi itu
Kemaren sore, seorang anak ditemukan tewas karena kecelakaan...
Onthelnya tertabrak Bus antar kota yang melaju kencang...
Benturan hebat membuat kepalanya mengalami pendarahan yang luar biasa..
Sepeda onthelnya terlempar dan kemudian terlindas mobil..
Hancur...
Onthelnya memang telah hancur, tapi tak akan pernah “mati”..
Mimpi telah berakhir.
Onthelnya kini dipajang di halaman depan rumah, dekat kebun kecil yang ditumbuhi bunga-bunga rawatan ibu..
Onthel itu jadi media pelepas rindu....
Dari seorang ibu pada anaknya
Onthel itu jadi media motivasi,
Untuk semua yang tahu kisah antara Anak itu, Onthel dan mimpinya...
----- Dalam lubuk hati yang paling dalam, orangtuanya telah merasa bangga, jauh lebih bangga dari apa yang dipikirkan sang anak-------
(Sebuah catatan fiksi yang terinspirasi saat melihat seorang pemuda yang mengangkut rumput dengan sepeda onthelnya di suatu sore...he...he..)


1 comment:
naek onthel,ehh nyampe kesini..
hehehe,
Post a Comment